Saturday, September 3, 2011

Apa itu MOO'S PROJECT?

Moo's Projet adalah sebuah desa incorporated yang bebasis home industry dengan memberdayakan potensi desa setempat (khususnya sapi di Desa Sukorejo) dan mengintegrasikannya menjadi satu kegiatan bersama.

Untuk saat ini Moo's Project sudah bejalan di Desa Sukorejo, Kec. Musuk, Kabupaten Boyolali yang merupakan desa peternakan sapi perah. di sini kami mengembangkan 6 emas yang terdapat pada sapi, yaitu:
1. Emas Putih (susu sapi)
2. Emas Hitam (kotoran sapi)
3. Emas Kuning (kencing sapi)
4. Emas Biru (biogas)
5. Emas Merah (daging sapi)
6. Emas Hijau (agrowisata dan penghijauan lingkungan)

dengan mengembangkan ke-6 emas tersebut, kami berharap dapat mewujudkan moto kami yaitu: MULYO SESARENGAN (sejahtera bersama-sama)

terimakasih ^^
ara

Tuesday, June 21, 2011

Hachi

14 Juni 2011
ada anggota keluarga baru di rumahku :D namanya HACHI
umurnya tepat 2 bulan, soalnya dia lahir tgl 14 April 2011, Hachi itu kucing persia medium, bulunya putih, matanya biru, lucu banget X3
nantinya Hachi bakal jadi induk kucing di petshopnya adekku :)

Friday, August 20, 2010

Jatuh dari kuda

waaaaaaa !!
kemaren, hari kamis, 19 Agustus 2010 pukul 15.30
hari itu aku lagi berkuda di daerah Tegalwaton (atasnya Senjoyo). di situ ada sebuah stable, aku udah cukup lama sekolah di sana, sekitar 1 bulan, kalo gak salah ini pertemuan ke 5 ato 6 gtu ..
jd ceritanya, aku lagi belajar canter pake kuda yang namanya Owen, bagus lo kudanya! pinter lg , hahaha XD
waktu muter ke arah kiri, fine fine aja, coz kata Pak Andre - guruku - kaki kiriku cukup seimbang, tapi pas muter ke arah kanan, tumpuan terbesar ada pada kaki kanan, tapi kaki kananku masih kurang seimbang, alhasil goyang-goyang deh pas canter trs aku jatoh deh, untung bawahnya pasir. ini kali kedua aku jatoh dari kuda ..
waktu jatoh, kata Pak Andre jangan langsung bangun, nanti bisa kaget trs bisa jadi pusing. selain itu kita gak tahu apakah ada posisi tulang ato saraf yang gak bener. untungnya, aku baik baik aja dan kudanya pun jg baik2 aja :)
waktu aku duduk, eh malah disuruh ibu ma bapak tiarap lagi di pasir persis kyk posisi semula, cuma bwt foto lagi -____-
pengalaman tak terlupakan :D

Sunday, August 8, 2010

The Legend of Moo

jadi ceritanya begini ..
aku suka sekali sapi, menurutku sapi itu imut, lucu, bermanfaat, multi function, dan menghasilkan susu. aku punya banyak koleksi boneka sapi dan pernak pernik sapi lainnya. hingga akhirnya aku berniat untuk mengkoleksi sapi beneran, hahaha :D
pada suatu hari, aku dan keluargaku berjalan-jalan ke LHM (Lembah Hijau Multifarm) untuk melihat sapi-sapi. di sana ada buanyaaak sekali sapi, sekitar 1500 ekors sapi. tapi sayang, semua itu hanya dimiliki 1 orang saja, coba sapi sebanyak itu dimiliki oleh seluruh penduduk desa, pasti asyik >.<>
hari berikutnya, om novi (temennya bapak) ditawari untuk mengontrak kandang di desa Blanten, kecamatan musuk, Boyolali, oleh temannya. karena bingung mau dipakai apa, akhirnya om novi menghubungi bapakku. wah, kebetulan sekali! kandang itu dan penduduk desanya yang ramah dan baik bisa menjadi sarana untuk mewujudkan mulyo sesarengan :D akhirnya kami buatlah nama Moo's Project, karena disini kami menonjolkan SAPI-nya karena memang mayoritas penduduk di sana beternak sapi.
kami pun berencana mengontrak kandang tersebut dan mulai belajar banyak tentang sapi di LHM.
eng ing eng .. dan inilah awal dari kisah "The Legend of Moo" ;)
tunggu kisah selanjutnya..

fb ara : ara kusuma
e-mail : notulalit@gmail.com
kalo mau lihat foto-foto ttg musuk, silahkan lihat di : http://www.facebook.com/album.php?aid=58296&id=1621336995

Tuesday, June 29, 2010

Double sister in action !

(Tue, 29 June 2010)
Aku, mbak enes, ryaa, sama mbak ika (kakaknya ryaa) jalan" bwt hunting foto ..
maka dari itu aku nyebutnya double sister , jd aq sama kakak.q , trs rya sama kakaknya :D, hehe ..
seru bgt !
kita ke pohon 5 , panca sila, naik mobil"annya lg XD
oh ya , pas di sawah, kita nemuin semanggi berdaun 4, LUCKY ! hhe ..
foto"nya keren" , ohoho ^^
ni bberapa fotonya :









Friday, June 25, 2010

Misteri Rambut Jaka Tingkir

Trio Banteng Ketaton yang terdiri dari Parikesit, Riyanto, dan Karyo itu seperti biasa berkumpul di markas mereka pukul empat sore, sebelum mereka mengaji di TPA Al-Khidmat. Markas mereka yang dibuat oleh ayah Karyo yang bekerja sebagai seorang arsitek. Markas itu dibuat di halaman rumah Parikesit yang luas, sedangkan untuk perabotnya diambilkan dari perabotan rumah Riyanto yang sudah tidak terpakai.

Mereka bertiga punya sebuah buku, buku itu mereka isi dengan daftar tempat-tempat yang akan mereka jelajahi.

”Ok, sekarang mari kita lihat, wilayah mana yang belum kita singgahi.” ujar Riyanto memulai percakapan.

”Hei, coba lihat! Sepertinya tempat ini cocok untuk kita kunjungi.” usul Karyo sembari menunjuk lokasi Mata Air Senjoyo.

”Ya, sebentar lagi kan bulan puasa, sekalian saja kita padusan di sana!” kata Parikesit.

”Jaman sekarang masih padusan? Apalah kata dunia?” celetuk Riyanto.

Enak aja, keluargaku masih sering padusan sebelum bulan puasa lo.” timpal Parikesit.

”Itu kan buat orang jadul, yang nggak pernah mandi.” kata Riyanto.

”Sudah sudah, jangan ribut terus, padusan itu dilaksanakan agar jiwa dan raga kita bersih dan suci. Jadi ceritanya jaman dahulu kala, ada murid Sunan Kalijaga, namanya Jaka Tingkir. Oleh sunan kalijaga ia dipersaudarakan dengan cucu-cucu Ki Ageng Selo yang bernama Ki Juru Mertani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Penjawi...” ujar Karyo

Belum selesai bercerita Parikesit menimpalinya, ”Ooo... Jaka Tingkir yang nama mudanya Mas Karebet itu ya? Anaknya Ki Kebo Kenanga yang juga berjuluk Ki Ageng Pengging?”

”Iya, betul. Kok kamu bisa tahu, Sit?” tanya Karyo tak percaya.

”Dulu, sebelum tidur aku biasanya diceritakan legenda-legenda jaman dulu oleh eyangku. Kalau tidak salah ayahnya dihukum mati pada masa kesultanan Demak diperintah oleh Sultan Trenggana karena dianggap menyebarkan bibit-bibit pemberontakan.” jelas Parikesit.

”Itu memang pantas, dia kan murid dari Syeh Siti Jenar, seorang wali yang menyebarkan ajaran sesat, yang disebut Manunggaling Kawula Gusti atau bersatunya makhluk dan Tuhannya.” celetuk Riyanto.

”Eit, tunggu dulu, To. Itu kan masih anggapan orang, kita tidak tahu mana yang sebenarnya. Jangan asal ngomong, dong.”

”Betul kata Parikesit. Nah, sepeninggal Ki Ageng Pengging, Nyai Pengging mengajak Mas Karebet untuk menyepi ke desa Tingkir, sehingga Mas Karebet dikenal sebagai Jaka Tingkir, yaitu laki-laki yang tinggal di daerah Tingkir.” lanjut Karyo.

”Ooo... jadi Mas Karebet itu nama lain atau nama kecilnya Jaka Tingkir... ngomong kek dari tadi. Aku baru tahu...” ucap Riyanto.

”Ghhrrr... ini anak bener-bener deh. Dari tadi aku juga udah ngomong!!!” ujar Parikesit gemes.

”Hehehe... maaf, Sit, aku nggak tahu. Ngomong-ngomong gimana kelanjutan ceritanya?”

”Setelah menyepi, Jaka Tingkir bertemu dengan Sunan Kalijaga. Ia diperintahkan untuk bertapa di mata air yang berada di Desa Tingkir. Ia bertapa bratanya lamaaaa... sekali. Seperti saat kita berpuasa di bulan Ramadhan! Bayangkan, rambutnya yang tadinya rapi dan pendek menjadi panjang sekali. Sebagian rambutnya diyakini masih tertinggal di mata air itu. Konon, bila ada orang-orang yang punya niat-niat buruk atau bertindak tidak senonoh, rambut itu akan menjeratnya dan akhirnya mereka tenggelam di mata air itu.” Karyo menghayati dengan penuh perasaan.

”Hiiiii... serem, aku jadi atut... (takut-red)” kata Parikesit.

Masak kayak begituan aja takut, apalah kata dunia?! Kamu kan laki-laki! Harus berani! Apalagi itu hanya mitos.” celetuk Riyanto.

”Kalau aku rasanya ingin nyeburin para koruptor ke sana, biar mereka tenggelam dijerat rambut sakti Jaka Tingkir! Yeah, kereen...” ucap Karyo.

”Setuju!!!” kedua temannya yang lain menimpali berbarengan.

”Eh ngomong-ngomong, kenapa sih Sunan Kalijaga menyuruh Jaka Tingkir tapa brata juga?” tanya Riyanto penasaran.

”Menurutku, Tapa brata itu dimaksudkan oleh Sunan Kalijaga untuk membersihkan jiwa dan raga Jaka Tingkir.” timpal Parikesit.

”Naah... maka kemudian, sejak saat itulah orang-orang di sekitar situ sebelum bulan puasa berendam di mata air itu untuk mensucikan dan membersihkan diri. Acara itu dikenal dengan istilah padusan. Mata air itu disebut Senjoyo. Masyarakat menganggap kalau memasuki bulan puasa, kita harus bersih jiwa maupun raga.” ucap Karyo.

”Berarti harusnya nggak ada lagi orang yang puasa tetapi korupsi. Orang yang beribadah, sembahyang, tetapi mencuri. Dan sebagainya...” kata Riyanto.

”Yup! Betul. Puasanya nanti percuma deh, sia-sia. Setelah bertapa lama, Jaka Tingkir mendapatkan kemenangan.” lanjut Karyo.

”Kemenangan? Memangnya ada perang ya pada jaman itu?” tanya Parikesit.

”Bukan seperti itu maksudnya. Jadi kemenangan seperti diangkat menjadi Raja Jawa, Kasultanan Pajang. Beliau mendapat gelar Sultan Hadi Wijaya. Selain itu Jaka Tingkir juga mendapatkan kesaktian dari bertapa. Hebat kan?” jelas Karyo.

”Wah hebat sekali. Kayak aku.” ucap Riyanto dengan percaya diri.

”Tapi itu dulu. Kalau sekarang tapa brata itu bagaikan kita saat berpuasa. Sedangkan sesudah puasa kita mendapat kemenangannya bagaikan lebaran. Itu semua kita dapatkan bila kita berbuat baik dan tidak senonoh. Hati-hati lo, kalau nakal nanti dijerat rambut Jaka Tingkir.” kata Karyo sambil menakut-nakuti kedua temannya.

”Hii, memang rambut Jaka Tingkir bisa menjerat kita?” tanya Parikesit penuh rasa ingin tahu.

”Ya itu menurut kepercayaan orang-orang di seputar Senjoyo, kalau ada orang yang berbuat di luar norma-norma susila selama berenang di Senjoyo maka dia akan tenggelam karena dijerat rambut Jaka Tingkir”, jelas Karyo meyakinkan Parikesit

”Haaaaaaaaa!”, tiba-tiba Parikesit pun terkaget dan lari diikuti Riyanto di belakangnya.

”Ini rambut Jaka Tingkir ”, teriak Riyanto menakut-nakuti Parikesit sambil meletakkan ijuk sapu di bahu Parikesit.

”Eh teman-teman sini, aku punya usul, sebentar lagi kan puasa nih...pasti banyak warga Salatiga dan sekitarnya yang melakukan padusan di Senjoyo, bagaimana kalau kita buat acara di sana”, ucap Karyo menghentikan lelucon Riyanto menakut-nakuti Parikesit.

”hhhhh, hhhhhh setujuuu, apa ya kegiatannya?”, kata Riyanto sambil terengah-engah.

”Bagaimana kalau kita mengadakan gerakan kampanye air bersih.”, Parikesit mencoba mengeluarkan ide cemerlangnya.

”Ha...ha...ha... tumben...oke juga nih ide Parikesit, emang harus ditakut-takuti dulu nih, baru keluar ide cemerlangnya.”, Karyo pun memuji Parikesit.

”Oke lah kalau begitu, besok kita kumpul lagi di masjid ini ya, untuk membahas rencana kita.”, papar Riyanto.

”Sip, besok kan hari Minggu, kita semua libur, kumpul di masjid ini jam 8 pagi ya.” kata Karyo

” Insya Allah, ya sudah, aku mau pulang dulu, sudah sore nih.” ucap Parikesit sambil pamit.

”Oke, sampai jumpa besok ya, ingat jam 8.” kata Karyo menegaskan.

Akhirnya mereka bertiga meninggalkan masjid menuju rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan pulang banyak sekali pikiran yang berkecamuk di kepala mereka. Ide-ide kampanye air bersih di Senjoyopun mulai menemani perjalanan mereka pulang.

Sesampainya di rumah, Karyo segera mencuci kakinya, dan langsung lari ke kamar menyalakan internet dan mencari-cari beberapa ide kegiatan yang berkaitan dengan gerakan air bersih. Ia menemukan beberapa kata petunjuk seperti ”save the earth, selamatkan bumi kita” , ”air bersih untuk anak cucu kita” dan masih banyak lagi berita-berita tentang air bersih di internet yang semakin menggelitik pikiran Karyo untuk segera mewujudkannya.

Berbeda dengan Riyanto, sesampainya di rumah, ia langsung lari menuju gudang di sebelah garasi, membongkar tumpukan-tumpukan koran lama. Ia pernah ingat ada seorang wartawan sebuah koran terbesar di Indonesia yang menulis tentang Mata Air Senjoyo.Rasa penasaran Riyanto membuatnya terus bersemangat membuka selembar demi selembar koran yang warna kertasnya sudah mulai pudar karena saking lamanya.

Bagaimana dengan Parikesit? Apa yang dia lakukan untuk mendapatkan ide? Wah, ternyata di tengah malam ia berangkat ke Senjoyo, duduk bersila di atas batu besar, yang letaknya tidak jauh dari pohon beringin yang menaungi Mata Air Senjoyo. Di sana Parikesit mencoba untuk melihat dari dekat mata air yang menghidupi warga Salatiga selama ini dan berharap mendapatkan ide cemerlang yang akan ia bagikan kepada teman-temannya esok hari. Tiba-tiba di tengah semedinya mencari wangsit, ia dikagetkan dengan kehadiran seorang kakek bersorban putih.

”Parikesit anakku, selamatkan Mata Air Senjoyo”, pesan kakek bersorban putih itu sambil mengelus kepala Parikesit.

”Iya..iya kakek Joko Tingkir, hamba siap menyelamatkan Mata Air Senjoyo,” ucap Parikesit penuh keyakinan.

”Kek...kakek...kakek Joko Tingkir....”teriak Parikesit mencari-cari kakek bersorban putih yang tiba-tiba menghilang.

”Parikesit...Parikesit....heh..heh...Nak....bangun...sholat Maghrib dulu, udah adzan lho”, ucap ibu membangunkan Parikesit. Ibu sudah siap mengenakan mukena untuk jamaah sholat Maghrib bersama keluarga.

”Iya...iya kakek Joko Tingkir.....” kata Parikesit sambil membuka matanya.

”Hai, ini ibu, bukan Joko Tingkir”, teriak ibunya sambil meminta Parikesit segera mengambil air wudhu.

”O, aku mimpi rupanya, habis ibu pakai mukena, jadi kukira kakek Joko Tingkir yang bersorban putih dan berjubah putih, seperti di mimpiku tadi”, jelas Parikesit sambil menuju kamar mandi mengambil air wudhu.

Keesokan harinya tepat jam 8 pagi mereka bertiga sudah berkumpul di masjid Al Khidmat. Masing-masing membawa ide-ide yang dahsyat. Anggota Trio Banteng Ketaton saling beradu ide, mulai dari Karyo yang mengandalkan teknologi modern untuk mencarii ide sampai dengan Parikesit yang mengandalkan wangsit. Dari perdebatan itu maka diambil kesepakatan tiga bulan lagi mereka akan menyelenggarakan kegiatan di Mata Air Senjoyo dengan tema ”Selamatkan Mata Air Senjoyo” sesuai dengan wangsit dari kakek Jaka Tingkir yang disampaikan melalui mimpi Parikesit.


[oleh : K. D. Sekararum , hhe ..]

Monday, April 26, 2010

PROMOSI

Also Visit ::
blognya kakakq, ENES --> nskusuma.blogspot.com
blognya sahabat kecilq, LAURENT --> ouwyenholaholo.blogspot.com
(: thank's :)